Program pembinaan Desa Wisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kalurahan Pampang, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, berlangsung pada Selasa (12/8) dengan fokus pada penguatan kapasitas tata kelola destinasi dan pemaketan produk wisata berbasis masyarakat. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pagu Indikatif Sektoral (PIS) untuk mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan di tingkat desa.
Acara dihadiri oleh Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Gunungkidul, Supriyanta, S.Sos., MM., serta menghadirkan dua narasumber berpengalaman dari Desa Wisata Nglanggeran, sebuah desa wisata unggulan di Gunungkidul. Mursidi, sebagai praktisi pengelolaan desa wisata, membawakan materi tentang Tata Kelola Desa Wisata, sementara Heru Purwanto, pakar pemasaran pariwisata, memaparkan strategi Penyusunan Paket Wisata yang Menarik.
Dalam pemaparannya, Mursidi menekankan bahwa tata kelola destinasi wisata adalah proses holistik yang mencakup perencanaan strategis, pengelolaan sumber daya, promosi, hingga evaluasi kualitas layanan. Tujuannya adalah menciptakan pengalaman wisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat setempat.
Ia juga menjelaskan pentingnya konsep 4A (Attraction, Amenities, Accessibility, Ancillary) dalam pengembangan desa wisata:
- Attraction (Daya Tarik): Mengoptimalkan potensi alam, budaya, dan kearifan lokal.
- Amenities (Fasilitas): Memastikan ketersediaan akomodasi, toilet bersih, dan pusat informasi.
- Accessibility (Aksesibilitas): Memperbaiki infrastruktur jalan dan transportasi.
- Ancillary (Layanan Pendukung): Memperkuat layanan seperti pemandu wisata, keamanan, dan kebersihan.
Selain itu, penguatan kelembagaan Pokdarwis menjadi kunci agar desa wisata memiliki manajemen yang efektif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Heru Purwanto membagikan pengalaman Desa Wisata Nglanggeran dalam menyusun paket wisata yang menarik. Ia menjelaskan langkah-langkah teknis, mulai dari:
- Merancang Itinerary – Menyusun alur perjalanan yang menarik dengan memadukan atraksi alam, budaya, dan kuliner.
- Menghitung Harga Paket – Memastikan harga kompetitif dengan memperhitungkan biaya akomodasi, transportasi, dan jasa pemandu.
- Strategi Pemasaran – Memanfaatkan digital marketing, kolaborasi dengan agen perjalanan, dan promosi melalui media sosial.
Pembinaan ini juga menekankan pentingnya peran aktif Pokdarwis sebagai penggerak utama sadar wisata di tingkat desa. Anggotanya diharapkan sukarela, berdedikasi, dan memiliki visi jangka panjang untuk pengembangan pariwisata.
Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak seperti karang taruna, kelompok tani, PKK, BUMDes, pelaku usaha, dan akademisi dinilai penting untuk membangun ekosistem pariwisata yang inklusif.
Dalam sesi diskusi, peserta diajak mengidentifikasi potensi unggulan Desa Pampang, seperti:
- Wisata Alam: Spot alam yang masih alami, cocok untuk trekking atau camping.
- Seni Budaya: Pertunjukan tradisional yang bisa dikemas sebagai atraksi wisata.
- Kuliner & Kerajinan: Produk lokal seperti makanan khas dan kerajinan tangan.
Pemerintah desa dan dinas terkait diharapkan terus memberikan pendampingan dan akses pendanaan agar pengelolaan desa wisata berjalan sistematis dan berkelanjutan.
Dengan semangat gotong royong dan pengelolaan yang profesional, Desa Pampang siap melangkah menuju pariwisata berkelanjutan yang memberi manfaat bagi seluruh masyarakat.
0 Komentar