SEJARAH BERDIRINYA DESA PAMPANG
BAB I – PENDAHULUAN
"Guyub Rukun"
Desa Pampang adalah salah satu desa di antara 7 desa yang berada di wilayah Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Hadiningrat.
Kehidupan masyarakat pada umumnya adalah among tani, buruh tani, Pegawai Negeri (PNS), pedagang, dan sebagian lagi ada yang berprofesi sebagai pekerjaan gemblak (pengrajin perak dan tembaga).
Kebersamaan, guyub rukun, dan sifat gotong royong masih sangat melekat pada seluruh masyarakat Desa Pampang dan masih sangat erat dalam melestarikan adat budaya peninggalan para leluhur.
Adat istiadat dan budaya yang masih dilestarikan sampai saat ini adalah upacara rasulan (bersih dusun), nyadran, dan sedhekah-sedhekah yang lain, serta pelestarian seni budaya berupa seni pedhalangan (wayang kulit/purwa), klenengan, reyog klasik, Campursari RKP (Remaja Kelurahan Pampang), sholawatan, dan lain-lain.
Petilasan-petilasan (peninggalan) dan tempat yang masih ada sampai saat ini dipergunakan sebagai dasar dalam penyusunan sejarah berdirinya Desa Pampang.
Sejarah berdirinya Desa Pampang ini disusun oleh Tim Penyusun Sejarah, bekerja sama dengan para sesepuh yang mengetahui dan sebagian narasumber yang dapat dipercaya keterangannya untuk dasar sumber sejarah.
Petilasan-petilasan (peninggalan) dan tempat-tempat yang angker/seram yang berada di Desa Pampang sampai saat ini juga masih dipercaya dan dilestarikan.
Tradisi dan Upacara Adat
- Rasulan atau bersih dusun di Desa Pampang masih dilestarikan, yang merupakan acara rutin tahunan sebagai bentuk rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas pemberian rezeki selama setahun yang telah berlalu.
- Upacara sedhekah kirim doa juga masih dilestarikan, sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa di kala para petani akan menabur benih padi di musim tanam tahun yang akan datang.
- Upacara adat srabi kocor juga masih dilestarikan dan dilaksanakan di saat kemarau panjang untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberikan hujan yang barokah.
Buku Sejarah berdirinya Desa Pampang ini disusun berdasarkan sumber-sumber keterangan dan keadaan yang bisa dipercaya.
BAB II
KEADAAN WILAYAH DESA PAMPANG
"PAMPANG IJO"
Informasi Umum Desa
- Padukuhan Polaman
- Padukuhan Jetis
- Padukuhan Pampang
- Padukuhan Kedungdowo Wetan
- Padukuhan Kedungdowo Kulon
- Total: 2.681 jiwa
- Pria: 1.341 jiwa
- Wanita: 1.340 jiwa
- Kepala Keluarga (KK): 896 KK
e. Batas-batas Desa:
BAB III
KEADAAN EKONOMI, SOSIAL, BUDAYA, DAN KEMASYARAKATAN
DESA PAMPANG
Masyarakat di Desa Pampang dipandang dari mata pencaharian dan aktivitas sehari-hari, tingkat pendidikan, dan penganut kepercayaan (agama), terdiri seperti tersebut di bawah ini:
1. Menurut Mata Pencaharian/Pekerjaan
Sesuai dengan keadaan geografis wilayah Desa Pampang yang merupakan perdesaan, maka kegiatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dominan dengan bercocok tanam (pertanian).
"Para petani atau among tani tidak bisa dipandang remeh, sebab petani adalah merupakan Sakaguruning Nagara, artinya para petanilah yang dapat memenuhi kebutuhan pangan warga masyarakat (warga negara)."
Kecuali petani, sebagian lainnya berprofesi sebagai Pegawai Pemerintah (abdi negara) seperti guru, PNS, dan lain-lain. Juga ada yang berprofesi sebagai pedagang dan ada juga yang mempunyai keahlian pekerjaan gemblak (pengrajin perak & tembaga).
Desa Sentra Industri Perak
Desa Pampang ini disebut sebagai Desa Sentra Industri Perak, oleh sebab secara merata terdapat sebanyak 122 jiwa yang berprofesi sebagai pengrajin perak.
Gallery Perak:
Tahun 2009, PGN (Perusahaan Gas Negara) Jakarta memberikan bantuan dan pendampingan berupa stimulan dan bangunan gedung berupa "Gallery" (gedung untuk pameran dan pemasaran hasil karya kerajinan perak) yang didirikan di sebelah timur Dusun Pampang.
Penetapan Resmi:
Gedung Gallery Perak tersebut diresmikan oleh Ibu Bupati Gunungkidul tahun 2009, dan bersamaan dengan gedung itu, Desa Pampang ditetapkan sebagai Desa Penyangga Wisata yang merupakan desa pendukung majunya objek wisata pesisir pantai selatan Gunungkidul.
Lokasi:
Gedung Gallery Perak ini didirikan bersebelahan dengan bangunan Balai Dusun Pampang. Juga terdapat Tugu Batas yang terletak di perbatasan antara Dusun Polaman dan Wareng.
Komposisi Profesi Penduduk
Masyarakat Desa Pampang menurut mata pencaharian/pekerjaan, terdiri dari:
Sejarah Kerajinan Perak
Aktivitas gemblak (pengrajin perak) ini sudah ada sejak tahun 1960-an. Pekerjaan gemblak tersebut membutuhkan keahlian khusus dan dapat dikatakan sebagai keahlian (pekerjaan) turun-temurun.
Pencapaian Internasional
🌎 Desa Pampang, di samping disebut sebagai Sentra Industri Perak, hasil karyanya dapat menembus pasar dunia (internasional), di antaranya ke negara-negara:
2. Menurut Tingkat Pendidikan
Pada abad 16, negara kita dijajah oleh bangsa Belanda selama kurang lebih 350 tahun. Selama penjajahan Belanda tersebut, bangsa kita tidak diperbolehkan mengikuti pendidikan sekolah, terkecuali bagi keturunan bangsawan (ningrat) dan mereka-mereka yang kaya dan mampu untuk membayar biaya sekolah.
Tahun 1945, setelah negara Indonesia merdeka, maka seluruh warga negara sudah bisa bebas ikut bersekolah untuk menikmati pendidikan.
Semakin tinggi kesadaran masyarakat terhadap pendidikan, walaupun di perdesaan, saat ini sudah banyak putra-putri kita menjadi anak-anak yang pintar dan bahkan telah diwisuda menjadi sarjana di perguruan tinggi (universitas), dan banyak juga putra-putri desa yang mengabdikan diri untuk negara atau di kantor-kantor swasta.
Masyarakat Desa Pampang yang masih aktif mengikuti pendidikan menurut tingkatan adalah sebagai berikut:
- Sarjana S-2: - jiwa
- Sarjana S-1: 6 jiwa
- SLTA/SMA: 48 jiwa
- SLTP/SMP: 54 jiwa
- SD: 172 jiwa
- TK/PAUD: 76 jiwa
3. Menurut Kepercayaan/Pengikut Agama
Sesuai dengan azas Bhineka Tunggal Ika, dari zaman dahulu sampai sekarang, pengikut kepercayaan (pemeluk agama) masyarakat Desa Pampang beragam.
Menganut (memeluk) salah satu agama yang diakui oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah merupakan hak azasi setiap warga negara.
Masyarakat Desa Pampang masih banyak yang masih mempunyai kebiasaan membakar kemenyan (dupa), di samping sebagai bentuk permohonan suatu terhadap kekuatan gaib, misalnya di tempat angker, kuburan, dan benda-benda pusaka dengan membakar kemenyan atau istilah lain caos sekul suci ganda arum agar permohonannya bisa dikabulkan.
Walaupun secara nyata membakar kemenyan, akan tetapi secara batin tetap memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya permohonannya bisa dikabulkan.
Walaupun terdapat keanekaragaman, akan tetapi seluruh warga masyarakat Desa Pampang dapat hidup berdampingan dengan rasa aman dan damai, silih asah, silih asuh, dan silih asih.
Masyarakat Desa Pampang melaksanakan ibadahnya menurut agama dan kepercayaan masing-masing tanpa ada yang mengganggu dan menghalangi.
Tempat sebagai sarana ibadah di Desa Pampang sekarang ini baru ada berupa masjid. Jumlah masjid di Desa Pampang yang dipergunakan untuk ibadah secara jamaah ada 12 (dua belas) yang tersebar di 5 (lima) padukuhan.
Jumlah pengikut/pemeluk agama di Desa Pampang saat ini sebagai berikut:
- Agama Budha: - jiwa
- Agama Hindu: - jiwa
- Kristen/Katholik: 22 jiwa
- Islam: 2.669 jiwa
4. Adat Tradisi dan Budaya yang Masih Dilestarikan di Desa Pampang
- Rasulan (Bersih Dusun) dan Kirim Doa
Adat tradisi Rasulan (bersih dhusun) ini merupakan suatu upacara sakral, sebab merupakan bentuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas pemberian rezeki dan barokah kepada warga masyarakat selama setahun yang telah berlalu.
Masyarakat secara bersama-sama bergotong royong membuat sarang dari bahan bakul daun kelapa bertempat di depan Balai Desa, yang nantinya sarang tersebut untuk tempat (wadah) berkat untuk para jamaah kenduri.
Sebagian lainnya mengerjakan tarub atau merias aula Balai Desa untuk persiapan pentas wayang kulit sebagai acara puncak dan hiburan masyarakat.
Dalang Wayang Kulit Desa Pampang
Desa Pampang semenjak dahulu sampai saat ini memiliki personil dalang wayang kulit sendiri. Dhalang wayang kulit asli dari Desa Pampang yang cukup tenar di masanya:
Upacara Rasulan (Bersih Dhusun)
Upacara Rasulan (bersih dhusun) di Desa Pampang itu tidak bisa dilaksanakan secara bersamaan antara padukuhan satu dengan yang lain, karena di masing-masing padukuhan mempunyai hari kelahiran yang berbeda.
- Rasulan untuk Dusun Polaman, Pampang, dan Jetis dilaksanakan pada hari Senin Pon.
- Rasulan untuk Dusun Kedungdowo Kulon dan Wetan dilaksanakan pada hari Rabu Wage.
Untuk melestarikan seni budaya dan untuk memberikan hiburan sebagai rangkaian acara Rasulan, masyarakat secara bersama-sama mengumpulkan dana swadaya untuk biaya pentas wayang kulit dan hiburan-hiburan lainnya seperti persahabatan sepak bola, voli ball, dan bulu tangkis.
Rasulan (bersih dusun) diadakan setahun sekali, setelah para petani melaksanakan panen.
Kirim Doa (Kirim Dowa) dilaksanakan sebelum para petani menebar bibit tanaman, dengan harapan tanamannya dapat tumbuh subur, hijau, dan dapat panen yang melimpah.
Bentuk dari pelaksanaan Rasulan (bersih dhusun) dan Kirim Doa tersebut berupa sedekah berupa tumpeng atau ingkung yang terbuat dari hasil panen dan hasil bumi selama setahun yang telah berjalan.
Sedekah yang dikeluarkan adalah sebagai bentuk rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa disertai dengan rasa ikhlas lahir batin.
Srabi Kocor (Sedhekah untuk Memohon Hujan)
Menurut perhitungan musim (pranatamangsa) para petani, mulai datang musim penghujan di musim ke-4 (keempat) di bulan Oktober.
Apabila di bulan Oktober tersebut belum ada tanda-tanda datangnya hujan, maka untuk memohon hujan dilakukan Srabi Kocor di antara bulan November–Desember di saat kemarau panjang.
Upacara Srabi Kocor dilaksanakan di Area Sumur Gede Dusun Pampang.
Untuk sarana upacara kocoran, warga masyarakat membuat sejenis kue srabi dan rangkaiannya.
Tradisi Nyadran
Nyadran
Masyarakat Desa Pampang masih banyak yang melestarikan adat naluri Nyadran, antara lain:
- Memperingati keluarga yang telah meninggal dunia, mulai dari penguburan (surtanah), peringatan 3 (tiga) hari, 7 (tujuh) hari, 40 (empat puluh) hari, 100 (seratus) hari, 1 (satu) tahun, 2 (dua) tahun sampai 1.000 (seribu) hari, dan kirim doa sholawat pada bulan Ruwah kepada semua leluhur yang sudah meninggal dunia.
Semua itu dilaksanakan dalam bentuk sedekah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar semua arwah keluarga yang sudah menghadap diampuni dosanya dan diberi tempat yang mulia di sisi-Nya.
Sedhekah Bayi
Tradisi ini dimulai sejak sang ibu mengandung (hamil):
- 3 (tiga) bulan yang disebut nyiram/nyidham
- 7 (pitu) bulan yang disebut tingkepan
- Sampai lahirnya jabang bayi
- Putus tali pusernya disebut puputan
- Sampai 35 (tiga puluh lima) hari disebut selapanan
Semuanya diperingati dalam bentuk syukuran dengan mengeluarkan sedekah dengan harapan selamat ibu kandungnya dan juga selamat bayinya sampai waktu selanjutnya.
Gumbregan (Sedhekah Hewan)
Gumbregan adalah adat yang masih melekat untuk selamatan hewan peliharaan seperti lembu (sapi), kambing, kuda, kerbau, dan hewan-hewan peliharaan lainnya.
Disebut Gumbreg karena selamatan hewan ini dilaksanakan pada Wuku Gumbreg, dan di Desa Pampang dilaksanakan pada hari Selasa Wage.
Makna Gumbregan
Dilaksanakan selamatan hewan atau Gumbregan untuk memohon agar seluruh hewan peliharaan dapat hidup selamat, berkembang biak, dan dapat menopang kehidupan keluarga.
Sedekah Gumbregan
Sedekah berupa masakan yang berasal dari hasil pertanian jenis brokohan (krowotan) seperti:
- Singkong
- Ubi
- Gembili
- Ketupat Luar (ciri khas)
Makna Ketupat Luar
Kopat luar mengandung maksud agar supaya keluarga dan seluruh hewan peliharaannya dapat luar (terhindar) dari mala petaka dan bisa berkembang biak menjadi banyak.
BAB IV
LURAH/KEPALA DESA PAMPANG YANG PERNAH MENJABAT
| No | Nama Lurah | Masa Jabatan |
|---|---|---|
| 1 | Kyai Lurah Sodinomo | Tahun …… – Tahun …… |
| 2 | Kyai Lurah Songet | Tahun …… – Tahun …… |
| 3 | Kyai Lurah Harjo Suwito | Tahun 1927 – Tahun 1948 |
| 4 | Bapak Pawiro Utomo | Tahun 1948 – Tahun 1965 |
| 5 | Bapak Suyanto, SE | Tahun 1965 – Tahun 1995 |
| 6 | Bapak Sarmidi, SE | Tahun 1996 – Tahun 2004 |
| 7 | Bapak Sugiyatno | Tahun 2004 – Tahun 2014 |
| 8 | Bapak Iswandi, SE | Tahun 2015 – Tahun 2020 |
| 9 | Bapak Saiful Khohar | Tahun 2021 - sekarang |
Dokumen Sejarah Desa Pampang
Kyai Lurah Sodinomo
"Lurah/Kepala Desa Pampang yang pertama"
Tidak ada informasi jelas mengenai sebutan jabatannya (Demang, Bei, atau lainnya) maupun kiprahnya karena minimnya sumber sejarah.
Kyai Lurah Songet (Lurah Sekores)
"Kyai Lurah Songet adalah Lurah Pampang kedua yang hanya menjabat sekitar 1 tahun"
Beliau diberhentikan karena penyimpangan administrasi keuangan dan ketidakmampuan menunjukkan bukti audit dari Kraton Yogyakarta. Julukan "Lurah Sekores" merujuk pada pemberhentiannya.
Kyai Lurah Harjo Suwito (Dalang Golo)
"Lurah Pampang ketiga sekaligus dalang wayang kulit terkenal di Gunungkidul"
- Membenahi sistem pemerintahan dengan sarana prasarana desa
- Membentuk perangkat dan lembaga desa
- Berkoordinasi dengan tokoh masyarakat untuk keamanan dan kemajuan desa
- Melestarikan budaya Jawa dan memberantas kejahatan dengan kesaktiannya
Bapak Pawiro Utomo (Lurah Cemuk)
Diangkat menjadi lurah setelah Kyai Harjo Suwito pensiun
Masa Penuh Gejolak
Masa jabatannya diwarnai peristiwa G30S/PKI yang mengakibatkan:
- Pemberhentian hampir seluruh perangkat desa
- Hanya tersisa 2 pejabat:
- Bapak Rono Wiryo (Kaum)
- Bapak Jamal (Dukuh Polaman)
Bapak Suyanto, SE
"Putra Pawiro Utomo yang memimpin Pampang selama 32 tahun"
- Memindahkan kantor desa ke balai desa mandiri
- Mendirikan Pasar Pon (1967) dengan tradisi menanam pohon beringin dan waru
- Membangun SD Pampang (1967) dan lapangan sepak bola "Mandhala Bhakti"
- Merancang tata ruang terpadu: balai desa, pasar, sekolah, puskesmas, dan musholla
Bapak Sarmidi, SE
"Cucu Alm. Bapak Rono Wiryo yang memimpin Pampang selama 8 tahun"
- Tertib administrasi dan pelayanan masyarakat
- Pembangunan infrastruktur jalan untuk akses ekonomi dan pendidikan
Bapak Iswandi, SE
Fokus Pembangunan:
Bapak Saiful Khohar
BAB V
SEJARAH ASAL USUL BERDIRINYA DESA PAMPANG
Cerita tentang berdirinya Desa Pampang yaitu pada tahun 1864, pada masa kadipaten Mataram.
Asal Usul Nama Pampang
Pampang berasal dari kata-kata sempalaning pang-pang, merupakan sebuah pepatah yang artinya:
Musyawarah Pendirian Desa
Para abdi dalem dan kasepuhan berkumpul untuk bermusyawarah, dan atas hasil musyawarah tersebut disepakati tempat ini diberi nama "PAMPANG".
Menurut keterangan narasumber, bahwa Lurah/Kepala Desa Pampang sampai saat ini telah dijabat oleh 9 (sembilan) Lurah (Kepala Desa).
Dusun Pampang
Asal usul: Berasal dari kalimat sempalaning pang-pang, menjadi pusat pemerintahan desa.
Peninggalan Sejarah
Makam Kyai & Nyai Lurah Harjo Suwito (Lurah Pampang ke-3).
Sumur tua yang airnya tak pernah kering, digunakan untuk upacara Serabi Kocor saat musim kemarau.
Kedua peninggalan ini menjadi bukti sejarah dan bagian dari tradisi yang masih dilestarikan di Dusun Pampang.
Dusun Kedungdowo Wetan
Asal usul: Kedung (sungai dalam) + Dowo (panjang).
Peninggalan Sejarah
Direhabilitasi tahun 2017, dilengkapi lapangan bulu tangkis.
Terletak di area balai desa.
Dahulu tempat bertapa Eyang Hardjo Werdoyo.
Peninggalan ini menjadi saksi sejarah perkembangan Dusun Kedungdowo Wetan dari masa ke masa.
Dusun Kedungdowo Kulon
Asal usul: Kedung (sungai dalam) + Dowo (panjang) + Kulon (barat).
Peninggalan
Makam para abdi dalem Kraton Yogyakarta dan leluhur desa.
Dipercaya sebagai penanda harta karun atau bekas medan perang.
0 Komentar