TAHUN 2025
KALURAHAN PAMPANG, KAPANEWON PALIYAN, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, DIY
📖 DAFTAR ISI (klik untuk lompat)
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas tersusunnya Buku Profil Kebudayaan Kalurahan Pampang. Buku ini merupakan hasil pendataan, penggalian, dan dokumentasi berbagai potensi kebudayaan yang hidup, tumbuh, dan berkembang di tengah masyarakat Kalurahan Pampang.
Penyusunan buku profil kebudayaan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan, sehingga kebudayaan lokal dapat terus lestari serta menjadi sumber kekuatan sosial, identitas, dan kesejahteraan masyarakat Kalurahan Pampang.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buku ini, khususnya kepada pamong kalurahan, tokoh masyarakat, pelaku seni dan budaya, kelompok budaya, serta seluruh warga Kalurahan Pampang yang telah memberikan data, informasi, dan dukungan.
Kami menyadari bahwa buku profil kebudayaan ini masih memiliki keterbatasan dan memerlukan penyempurnaan. Oleh karena itu, masukan dan partisipasi dari berbagai pihak sangat diharapkan agar ke depan buku ini dapat terus diperbarui dan dikembangkan sebagai bagian dari upaya memajukan kebudayaan Kalurahan Pampang menuju kalurahan yang berdaya, berbudaya, dan berkelanjutan.
Lurah Kalurahan Pampang
Saiful Khohar
I. PENDAHULUAN
Kebudayaan merupakan identitas dan jati diri suatu masyarakat yang tumbuh dan berkembang melalui proses sejarah panjang. Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang semakin cepat, pelestarian kebudayaan lokal menjadi hal yang sangat penting agar nilai-nilai luhur, kearifan lokal, serta memori kolektif masyarakat tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Kalurahan Pampang, yang berada di Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan wilayah pedesaan agraris yang memiliki kekayaan budaya berakar kuat pada tradisi masyarakat Jawa. Kehidupan masyarakat Kalurahan Pampang dibentuk oleh lingkungan karst, sistem pertanian tegalan tadah hujan, serta nilai-nilai sosial seperti gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur.
Profil Kebudayaan Kalurahan Pampang disusun sebagai upaya untuk mendokumentasikan, menginventarisasi, dan memperkenalkan potensi kebudayaan yang ada, baik yang bersifat berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intangible). Dokumen ini diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan, pelestarian, serta pengembangan kebudayaan kalurahan secara berkelanjutan.
1.1. LATAR BELAKANG
Kalurahan Pampang memiliki jejak sejarah administratif yang panjang di Kabupaten Gunungkidul. Sebagai salah satu wilayah yang tercatat dalam Rijksblad Van Djogja Nomor 12 Tahun 1916 tertanggal 17 Mei 1916, Pampang semakin mengukuhkan posisinya melalui restrukturisasi pasca-kemerdekaan. Maklumat No. 5 Tahun 1948 dari Pemerintah Daerah Istimewa Negara Republik Indonesia Jogjakarta (Kasultanan dan Paku Alaman) mengatur perubahan daerah dan nama kalurahan untuk memperlengkapi pembangunan administratif. Dalam Pasal 1, disebutkan bahwa Kabupaten Gunungkidul yang sebelumnya memiliki 168 kalurahan direduksi menjadi 141 kalurahan, dengan daftar lengkap dimuat dalam lampiran (Pasal 2). Maklumat ini mulai berlaku setelah pemilihan pamong kalurahan selesai (Pasal 3), ditetapkan di Jogjakarta pada 19 April 1948, menandai era konsolidasi wilayah untuk mendukung pembangunan lokal.
Penetapan Hari Jadi Kalurahan Pampang pada 8 Mei 1916 (5 Redjeb Dje 1846) semakin diperkuat melalui musyawarah masyarakat dan Berita Acara Kesepakatan Nomor ................. tertanggal ................. tahun 2025. Tanggal ini dipilih berdasarkan bulan Mei 1916, disesuaikan dengan hari Senin Pon hari baik dalam kalender Jawa yang melambangkan awal harmonis bagi tiga padukuhan utama.
Secara sosial dan budaya, Kalurahan Pampang mencerminkan dinamika kehidupan pedesaan di kawasan karst Gunungkidul. Masyarakatnya adaptif terhadap tantangan alam seperti tanah gersang dan keterbatasan air, terlihat dari pola permukiman berpola padukuhan, mata pencaharian pertanian tumpang sari (singkong, jagung), serta tradisi ritual seperti selamatan panen dan ziarah makam leluhur. Namun, urbanisasi, mobilitas penduduk, dan pengaruh budaya luar menyebabkan pergeseran tradisi, seperti menurunnya gotong royong atau pengetahuan lisan. Penyusunan Profil Kebudayaan ini menjadi pendataan sistematis untuk pelestarian, memberikan pengetahuan bagi masyarakat agar aset budaya dijaga dan dikembangkan misalnya melalui wisata karst untuk generasi mendatang.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mendukung inisiatif ini melalui kebijakan kebudayaan, termasuk Dana Keistimewaan Reformasi Birokrasi Kalurahan, yang dialokasikan untuk pendokumentasian dan penguatan identitas budaya secara partisipatif sebagai rujukan pelestarian tingkat lokal.
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud penyusunan Profil Kebudayaan Kalurahan Pampang adalah untuk mendokumentasikan, melestarikan, dan mempublikasikan potensi kebudayaan yang ada di wilayah Kalurahan Pampang secara sistematis, terstruktur, dan berkelanjutan.
Tujuan penyusunan Profil Kebudayaan Kalurahan Pampang adalah sebagai berikut:
- Mengidentifikasi dan mendata berbagai potensi kebudayaan lokal yang hidup dan berkembang di masyarakat.
- Melestarikan nilai-nilai tradisi, kearifan lokal, serta warisan budaya masyarakat Kalurahan Pampang.
- Menjadi pedoman dalam perencanaan pembangunan kalurahan yang berbasis budaya.
- Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan seni, tradisi, dan pelestarian budaya.
- Menjadikan kebudayaan sebagai sumber penguatan identitas lokal, ekonomi kreatif, dan pengembangan potensi kalurahan secara berkelanjutan.
1.3. MANFAAT
- Menjadi dokumen dasar bagi Pemerintah Kalurahan Pampang dalam menyusun kebijakan pelestarian dan pengembangan kebudayaan.
- Menjadi sumber informasi bagi lembaga pendidikan, peneliti, pemerhati budaya, dan masyarakat umum.
- Menjadi panduan dalam pengembangan potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
- Menjadi bahan promosi potensi kebudayaan Kalurahan Pampang dalam kegiatan tingkat daerah maupun nasional.
- Menjadi media edukasi bagi generasi muda agar mengenal, memahami, dan mencintai kebudayaan lokal.
1.4. GAMBARAN UMUM KALURAHAN PAMPANG
Kalurahan Pampang terletak di wilayah Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan luas wilayah sekitar 371,296 Ha. Secara administratif, wilayah ini terbagi menjadi 5 padukuhan yang berkembang dari 3 padukuhan awal sejak Hari Jadi pada 1916, dan dihuni oleh sekitar 2.832 jiwa. Kondisi alamnya khas kawasan karst Gunungkidul, didominasi lahan tegalan kering dan pertanian tadah hujan, dengan topografi relatif datar tanpa bentang alam wisata berskala besar seperti pantai, gua, atau perbukitan menjulang meski potensi mikro seperti tebing karst dan sumur tradisional ada untuk pengembangan wisata budaya.
Mata pencaharian utama masyarakat adalah sektor pertanian (komoditas utama: singkong, jagung, kacang tanah melalui pola tumpang sari), peternakan rakyat (sapi, kambing potong), serta pekerjaan informal seperti buruh tani, pedagang kecil, dan buruh migrasi ke kota. Pola kehidupan masih kuat bercorak pedesaan agraris, dengan tingkat interaksi sosial tinggi melalui kegiatan gotong royong, arisan padukuhan, dan pasar tradisional mingguan. Nilai-nilai kebersamaan yang erat ini seperti musyawarah desa dan toleransi antaragama turut membentuk karakter budaya dan tradisi masyarakat Kalurahan Pampang hingga saat ini, meski tantangan modern seperti perubahan iklim dan urbanisasi mulai memengaruhi dinamika tersebut.
II. KONDISI SOSIAL BUDAYA
Kehidupan sosial masyarakat Kalurahan Pampang ditandai oleh hubungan sosial yang harmonis, guyub, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Sistem sosial berbasis paguyuban masih terasa kuat dan tercermin dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan seperti kerja bakti, sambatan, rewang, kenduri, serta musyawarah warga. Nilai-nilai saling menghormati, kepatuhan terhadap sesepuh, serta etika sosial Jawa masih menjadi pedoman tidak tertulis dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi sosial budaya tersebut menjadi fondasi penting dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan lokal Kalurahan Pampang.
III. OBJEK PEMAJUAN BUDAYA
Pendataan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Kalurahan Pampang dilaksanakan dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menetapkan sepuluh objek pemajuan kebudayaan secara komprehensif sebagai sasaran utama pemajuan kebudayaan. Dalam Profil Kebudayaan ini, Pemerintah Kalurahan Pampang merujuk pada pendataan 10 (sepuluh) objek pemajuan kebudayaan yang disusun oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul sebagai dasar inventarisasi, pelestarian, dan pengembangan aset budaya lokal secara sistematis, sebagai berikut:
1. Tradisi Lisan
1.1 Deskripsi Umum
Tradisi lisan di Kalurahan Pampang diwariskan secara turun-temurun melalui tuturan para sesepuh dan tokoh masyarakat. Tradisi ini mencakup cerita asal-usul wilayah, kisah tokoh-tokoh terdahulu, serta narasi mengenai situs-situs bersejarah seperti Makam Siti Hinggil dan Sumur Tua Pampang. Tradisi lisan berfungsi sebagai media pewarisan nilai moral, pandangan hidup, dan memori kolektif masyarakat.
1.2 Bentuk Tradisi Lisan
- Cerita rakyat (sejarah lisan, dongeng, mitos, legenda).
- Pantun, peribahasa, dan teka-teki.
- Mantra atau rapalan yang digunakan dalam upacara adat.
- Epos atau syair.
1.3 Gugon Tuhon
Gugon tuhon adalah larangan atau petuah yang ditinggalkan nenek moyang dan diwariskan pada anak cucu secara lisan. Gugon tuhon berisi ajaran dan petuah yang bertujuan membentuk kehidupan yang lebih baik, sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara nalar, namun tetap dipegang dan dipercaya kebenarannya. Salah satu contoh gugon tuhon yang terdapat di masyarakat Kalurahan Pampang adalah: "Aja mangan brutu, mundhak guneme mencla-mencle" (jangan makan tunggir ayam, agar ucapan seseorang tidak berubah-ubah dan memiliki keteguhan hati).
2. Manuskrip
2.1 Deskripsi Umum di Pampang
Keberadaan manuskrip di Kalurahan Pampang bersifat terbatas dan sebagian besar disimpan secara pribadi oleh warga atau tokoh masyarakat. Manuskrip umumnya berupa catatan keagamaan, tulisan beraksara Jawa, serta dokumen silsilah keluarga. Kondisinya rentan terhadap kerusakan sehingga memerlukan pendataan dan upaya pelestarian.
2.2 Pengertian Manuskrip
Manuskrip adalah naskah atau teks yang ditulis secara manual atau menggunakan mesin ketik pada kertas atau media lainnya, yang belum dipublikasikan secara luas. Manuskrip dapat berupa karya sastra, karya ilmiah, catatan sejarah, atau dokumen lainnya, dalam berbagai bahasa dan topik. Dalam perkembangan modern, istilah "manuskrip" juga mencakup naskah yang ditulis menggunakan perangkat elektronik seperti komputer, sebelum diterbitkan sebagai buku atau artikel.
3. Adat Istiadat
3.1 Deskripsi Umum di Pampang
Adat istiadat di Kalurahan Pampang tercermin dalam praktik gotong royong, sambatan, rewang, serta tata krama sosial masyarakat. Adat istiadat menjadi pedoman dalam hubungan antarwarga, hubungan dengan lingkungan, serta hubungan spiritual masyarakat Kalurahan Pampang.
3.2 Pengertian Adat Istiadat
Adat istiadat adalah kebiasaan yang didasarkan pada nilai tertentu, dilakukan oleh kelompok masyarakat secara terus-menerus, dan diwariskan pada generasi berikutnya. Adat istiadat dapat berupa tata kelola lingkungan, tata cara penyelesaian sengketa atau hukum adat, sistem gotong royong, sistem musyawarah, cara menghormati orang tua, pembagian waris, sistem kekerabatan, cara berpakaian, tata krama, sistem pertanian, sistem kepemimpinan, dan lain sebagainya. Jenis adat istiadat dapat mencakup: hubungan antar individu, hubungan dengan lingkungan, hubungan komunal, hubungan spiritual.
3.3 Gotong Royong
Gotong royong mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa yang mengutamakan kebersamaan dan harmoni sosial dibandingkan kepentingan pribadi. Nilai ini berakar pada prinsip rukun dan tepa slira. Di Kalurahan Pampang, hampir semua padukuhan masih mempertahankan tradisi gotong royong, yang tampak dalam kegiatan bersih-bersih jalan dan parit/selokan secara berkala, serta kerja bersama dalam membangun rumah warga dan fasilitas umum.
3.4 Rewang
Rewang adalah kegiatan membantu secara sukarela dalam penyelenggaraan hajatan atau perayaan, seperti pernikahan, khitanan, maupun selamatan. Rewang biasanya dilakukan oleh tetangga, saudara, dan kerabat. Bentuk bantuannya dapat berupa memasak, menyiapkan tempat, mencuci perlengkapan, menyajikan makanan, hingga membersihkan setelah acara. Tradisi ini mencerminkan gotong royong, rasa kekeluargaan, dan solidaritas sosial masyarakat.
4. Ritus
4.1 Deskripsi Umum di Pampang
Ritus yang masih dilaksanakan di Kalurahan Pampang meliputi Nyadran, Rasulan (Bersih Desa), Gumbregan, serta ritus daur hidup seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ritus-ritus tersebut berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, sarana tolak bala, dan penguatan ikatan sosial.
4.2 Pengertian Ritus
Ritus adalah tata cara pelaksanaan upacara atau kegiatan yang didasarkan pada nilai tertentu dan dilakukan oleh kelompok masyarakat secara terus menerus serta diwariskan pada generasi berikutnya. Ritus dapat berkaitan dengan: daur hidup individu (kelahiran, inisiasi, perkawinan, kematian); daur hidup kolektif (merti dusun, bersih desa, upacara adat); tujuan (sakral, tolak bala, syukur); lokasi (sungai, mata air, lapangan, balai dusun); waktu (kalender agama, musim panen, hari pasaran tertentu); aturan (pantangan dan anjuran); urutan upacara; kelengkapan atau ubarampe (sesaji, aksesoris, peralatan, makanan/minuman); doa-doa, mantra, atau rapalan; pelaku yang terlibat dalam prosesi.
4.3 Rasulan (Bersih Desa)
Rasulan adalah tradisi pasca panen yang dilaksanakan masyarakat Gunungkidul, termasuk di Kalurahan Pampang, sebagai bentuk syukur atas hasil bumi dan doa untuk keselamatan desa. Kegiatan ini biasanya meliputi pengumpulan hasil bumi, penyajian makanan dalam kenduri, doa bersama, serta pentas kesenian. Rasulan juga menjadi ajang mempererat kebersamaan antarsesama warga dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang diwariskan turun-temurun.
5. Pengetahuan Tradisional
5.1 Deskripsi Umum di Pampang
Pengetahuan tradisional masyarakat Kalurahan Pampang berkembang dari pengalaman panjang bertani di lahan tadah hujan dan hidup di kawasan karst. Pengetahuan membaca tanda-tanda alam, perhitungan musim tanam, pemilihan jenis tanaman, serta pemanfaatan sumber daya lingkungan diwariskan secara lisan dan melalui praktik langsung antargenerasi.
5.2 Contoh Pengetahuan Tradisional
- Pengetahuan tentang makanan dan minuman tradisional.
- Jamu dan ramuan tradisional.
- Metode penyehatan tradisional (pijat, urut, kerik, dan lain-lain).
- Kerajinan (anyaman, gerabah, ukir kayu, tenun, dan sejenisnya).
- Pakaian tradisional.
- Rempah dan bumbu lokal.
- Ilmu bercocok tanam dan pengelolaan lahan.
6. Teknologi Tradisional
6.1 Deskripsi Umum di Pampang
Teknologi tradisional di Kalurahan Pampang mencakup peralatan dan sarana yang digunakan untuk mendukung kehidupan agraris dan rumah tangga. Di bidang pertanian, masyarakat memanfaatkan alat seperti luku, garu, ani-ani, alat penumbuk padi, serta lumbung padi tradisional. Teknologi ini mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap kondisi alam dan sistem pertanian musiman.
6.2 Pengertian dan Contoh
Teknologi tradisional adalah sarana, produk, kemahiran, dan keterampilan masyarakat yang lahir dari pengalaman nyata dalam berinteraksi dengan lingkungan, dikembangkan secara terus-menerus, dan diwariskan pada generasi berikutnya. Contohnya: arsitektur tradisional; sistem pengolahan lahan; alat musik tradisional; alat produksi dan teknologi penunjang (alat masak, alat dapur, perkakas rumah tangga, dan alat kerja); senjata tradisional.
7. Seni
7.1 Deskripsi Umum di Pampang
Seni di Kalurahan Pampang berkembang dalam bentuk kesenian rakyat yang umumnya ditampilkan pada acara Rasulan, peringatan hari besar, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Kesenian berfungsi sebagai sarana hiburan, ekspresi budaya, media pendidikan nilai, dan penguatan identitas lokal.
7.2 Pengertian dan Contoh
Seni adalah ekspresi artistik individu, kolektif, atau komunal, yang berbasis warisan budaya maupun kreativitas baru, dan terwujud dalam berbagai bentuk kegiatan atau media. Contoh bentuk seni antara lain: seni tari, seni musik, seni pertunjukan, seni sastra, film, seni rupa (lukis, patung, grafis, kriya, ukiran), seni media baru.
8. Bahasa
8.1 Deskripsi Umum di Pampang
Bahasa Jawa merupakan bahasa utama yang digunakan masyarakat Kalurahan Pampang dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan ragam tutur bahasa Jawa masih mencerminkan tata krama, struktur sosial, dan hubungan antargenerasi, misalnya melalui pemilihan tingkat bahasa (ngoko, madya, krama).
8.2 Pengertian dan Unsur Bahasa
Bahasa adalah sarana komunikasi antarmanusia, baik berbentuk lisan, tulisan, maupun isyarat. Unsur-unsur bahasa meliputi: aksara atau huruf; dialek atau aksen; tata bahasa; tingkatan berbahasa; cara bertutur sesuai norma sosial.
9. Permainan Rakyat
9.1 Deskripsi Umum di Pampang
Permainan rakyat seperti gobak sodor, benthik, ganepo/bandempo, dan permainan sederhana berbahan alam masih dikenal di Kalurahan Pampang, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Permainan ini berfungsi sebagai sarana hiburan, pendidikan karakter, dan interaksi sosial.
9.2 Pengertian dan Ciri
Permainan rakyat adalah permainan yang didasarkan pada nilai tertentu dan dilakukan oleh kelompok masyarakat untuk hiburan, rekreasi, dan pembelajaran nilai-nilai budaya secara informal, bukan semata-mata untuk menang-kalah. Ciri-cirinya antara lain: aturan fleksibel dan tidak baku, kesepakatan lisan, peralatan sederhana/alam. Contoh: kelereng, congklak, gasing, layang-layang, petak umpet, lompat tali.
10. Olahraga Tradisional
10.1 Deskripsi Umum di Pampang
Olahraga tradisional yang berkembang di Kalurahan Pampang adalah pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Kegiatan ini berperan dalam pembinaan fisik dan mental, penanaman kedisiplinan, serta pelestarian nilai-nilai budaya dan bela diri tradisional.
10.2 Pengertian dan Ciri
Olahraga tradisional adalah berbagai aktivitas fisik dan/atau mental yang bertujuan menyehatkan diri serta meningkatkan daya tahan tubuh, yang memiliki aspek kompetisi dan aturan yang lebih baku. Ciri-cirinya: fokus pada kompetisi, aturan terstruktur, sering dipertandingkan dalam festival, peralatan sederhana namun spesifik. Contoh: pencak silat, jemparingan, tarik tambang, panjat pinang, balap karung.
VI. POTENSI DAN WARISAN BUDAYA DI PADUKUHAN KALURAHAN PAMPANG
Kalurahan Pampang terbagi menjadi 5 padukuhan yang terdiri dari 23 RT dan 5 RW. Masing-masing padukuhan memiliki potensi serta warisan budaya yang masih terjaga dan terus hidup dalam keseharian masyarakat hingga saat ini.
Potensi dan warisan budaya di padukuhan-padukuhan Kalurahan Pampang merupakan bagian integral dari kebudayaan kalurahan secara keseluruhan. Warisan tersebut tidak hanya mencerminkan sejarah lokal dan identitas masyarakat, tetapi juga menjadi modal sosial dan budaya yang penting bagi keberlanjutan pembangunan berbasis kearifan lokal.
Klasifikasi Potensi dan Warisan Budaya
Secara umum, potensi budaya di padukuhan Kalurahan Pampang dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama, yaitu: Warisan Budaya Takbenda, Warisan Budaya Benda, dan Ekspresi Budaya Baru.
1. Warisan Budaya Takbenda (WBTb)
Warisan budaya takbenda meliputi praktik budaya, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Di Kalurahan Pampang, warisan budaya takbenda antara lain berupa: upacara adat, ritus, tradisi lisan, bahasa Jawa, kesenian tradisional, kuliner tradisional, sistem pengetahuan lokal.
2. Warisan Budaya Benda
Warisan budaya benda mencakup tinggalan fisik yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan simbolik bagi masyarakat. Di beberapa padukuhan Kalurahan Pampang terdapat berbagai situs dan tinggalan budaya, antara lain: sumur tua, makam leluhur, tugu triangulasi, bangunan dan artefak sederhana lainnya yang berkaitan dengan sejarah permukiman.
3. Ekspresi Budaya Baru
Selain warisan budaya yang bersifat tradisional, masyarakat Kalurahan Pampang juga mengembangkan ekspresi budaya baru yang tumbuh seiring perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi. Ekspresi budaya baru tersebut antara lain: kegiatan seni pertunjukan pada acara Rasulan, seni musik kontemporer, kerajinan kreatif serta pengembangan produk olahan lokal, aktivitas budaya lain yang melibatkan komunitas dan organisasi pemuda.
Acuan Objek Pemajuan Kebudayaan
Pendataan potensi dan warisan budaya di tingkat padukuhan di Kalurahan Pampang disusun dengan mengacu pada sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Sepuluh objek tersebut mencakup antara lain tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, serta olahraga tradisional.
PADUKUHAN JETIS
1. Tradisi Lisan: Asal Usul Padukuhan/Dusun Jetis
Nama Jetis berasal dari kata Boletis, yang menurut tradisi lisan masyarakat merupakan nama seorang sesepuh leluhur sekaligus cikal bakal Dusun/Padukuhan Jetis. Boletis adalah tokoh pertama yang menempati wilayah tersebut, kemudian wafat dan dimakamkan di kawasan yang kini dikenal sebagai Bumi Pasarean, sehingga wilayah ini kemudian disebut Jetis. Seiring waktu, penyebutan Boletis mengalami perubahan pelafalan menjadi Jetis dan digunakan hingga saat ini sebagai nama dusun/padukuhan. Hari jadi Padukuhan Jetis secara turun-temurun dipercaya jatuh pada hari Senin Pon.
Petilasan yang masih ada dan dijaga sampai dengan saat ini antara lain:
- Bumi Pasarean/Makam Leluhur Jetis: Area bumi pasarean atau makam ini digunakan sebagai tempat pemakaman Kyai Boletis sekaligus sebagai makam umum warga masyarakat Jetis. Lokasi ini menjadi pusat penghormatan terhadap leluhur dan penanda sejarah asal-usul padukuhan.
- Buk Kajeng: Terletak di sebelah barat padukuhan. Menurut cerita setempat, Buk Kajeng pernah dipindahkan, namun selalu kembali sendiri ke tempat asal, sehingga diyakini memiliki kekuatan gaib dan dijaga keberadaannya.
- Mbah Buk: Di perempatan dekat masjid, dipercaya sebagai "markas" dengan penjaga gaib. Saat hajatan atau rasulan masih diberi sesaji.
- Kekayon (Wit) Randu Alas: Pohon Randu Alas di utara Jetis, batas dengan Kalurahan Wunung. Dianggap angker, sering terlihat penampakan. Menjelang hujan sering muncul "geni omo".
2. Manuskrip
Sampai saat ini belum ditemukan manuskrip tertulis yang berasal dari Dusun/Padukuhan Jetis maupun yang secara khusus berkaitan dengan sejarah dusun. Pengetahuan tentang asal usul dan perkembangan dusun lebih banyak diwariskan melalui tradisi lisan dan cerita turun-temurun.
3. Adat Istiadat
Gotong royong, sambatan, rewang, kenduri.
4. Ritus
Nyadran, Rasulan, Tahlilan, Jagong bayi, brokohan, Sedekahan, Surtanah, Surak/gumbrekan, Tingkepan, puputan, kekahan, Lamaran, Ijab qobul, Tepung besan.
5. Pengetahuan Tradisional
Tata kelola air hujan, pijat bayi (dadah bayi), perhitungan mongso dan petungan tanam, penggunaan pakaian tradisional (surjan, beskap).
6. Teknologi Tradisional
Peralatan rumah tangga sederhana, alat pertanian tradisional, perontokan padi manual.
7. Seni
Sholawatan Jawa, Wayang kulit, Campursari, Hadroh.
8. Bahasa
Bahasa Jawa dengan ragam tutur.
9. Permainan Rakyat
Layang-layang, Delikan/petak umpet, Lompat karet, Hompimpa, Gasing/gangsing.
10. Olahraga Tradisional
Balap karung, Tarik tambang.
PADUKUHAN POLAMAN
1. Tradisi Lisan: Asal Usul Padukuhan Polaman
Nama Polaman berasal dari Pol (berakhir/berhenti) + Ulama. Sekitar tahun 1848 seorang ulama pengembara dari Bagelen bernama Kyai Mangun Ijoyo singgah dan menetap. Diwisuda sebagai ulama sejati, maka dinamakan Polaman. Hari jadi dipercaya Senin Pon.
2. Petilasan dan Peninggalan Sejarah
- Bumi Pasarean Polaman (makam Kyai Mangun Ijoyo).
- Kebon Sundan : tempat pemberian gelar kepada Kyai Mangun Ijoyo.
- Tempat dan perabotan bekas Panglima Jenderal Soedirman (kursi, meja, teko kuningan) di rumah Bapak Adi Suntono.
3. Manuskrip
Belum ditemukan.
4. Adat Istiadat
Sambatan, rewang, kenduri.
5. Ritus
Kenduri, Rasulan, Jagong bayi, Tahlilan, Sedekahan, Surtanah, Surak/gumbrekan, Tingkepan, puputan, Lamaran, Ijab qobul, Tepung besan, Nyadran.
6. Pengetahuan Tradisional
Pijat bayi, perhitungan mongso, pakaian adat.
7. Teknologi Tradisional
Peralatan rumah tangga dan pertanian sederhana, perontok padi manual.
8. Seni
Saat ini tidak ada kelompok seni tradisional tetap.
9. Bahasa
Bahasa Jawa.
10. Permainan Rakyat
Layang-layang, petak umpet, hompimpa, lompat karet.
11. Olahraga Tradisional
Balap karung.
PADUKUHAN PAMPANG
1. Tradisi Lisan: Asal Usul Pampang
Nama Pampang berasal dari "pang-pang" (cabang) atau "sempalaning pang-pang" (pusat/poros). Sebagai cikal bakal kalurahan. Hari jadi Senin Pon.
- Bumi Pasarean Pampang (makam Kyai & Nyai Lurah Harjo Suwito, lurah ke-3).
- Sumur Gedhe: tidak pernah kering, pusat upacara Serabi Kocor (minta hujan).
2. Manuskrip
Belum ditemukan.
3. Adat Istiadat
Gotong royong, sambatan, rewang, kenduri, musyawarah.
4. Ritus
Nyadran, Rasulan, Jagong bayi, Tahlilan, Sedekahan, Surtanah, Surak/gumbrekan, Tingkepan, puputan, kekahan, Lamaran, Ijab qobul, Tepung besan, Serabi Kocor.
5. Pengetahuan Tradisional
Pertanian tadah hujan, perhitungan musim, pijat bayi, pakaian adat.
6. Teknologi Tradisional
Sumur tradisional (Sumur Gedhe), alat pertanian sederhana, perontok padi.
7. Seni
Gejog lesung, seni pertunjukan rakyat.
8. Bahasa
Bahasa Jawa.
9. Permainan Rakyat
Layang-layang, petak umpet, nekeran, bekel, sunda manda/engklek, lompat tali, gobak sodor, benthik.
10. Olahraga Tradisional
Balap karung, tarik tambang.
PADUKUHAN KEDUNGDOWO WETAN
1. Asal Usul
Kedung (sungai dalam) + dowo (panjang) + wetan (timur). Hari jadi Rabu Wage.
2. Petilasan dan Peninggalan
- Kantor Lurah "Sasono Madoyo" (sejarah pembangunan).
- Pasar Kalurahan (Pasar Pon).
- Salak (Kebon Salak) dan Kedung Putih.
- Sawah Sanga (sembilan petak).
3. Manuskrip
Belum ditemukan.
4. Adat Istiadat
Gotong royong, sambatan, rewang, kenduri.
5. Ritus
Nyadran, Rasulan, Tahlilan, Jagong bayi, brokohan, sedekahan, Surtanah, Surak, Tingkepan, puputan, Lamaran, Ijab qobul, Tepung besan.
6. Pengetahuan Tradisional
Musim tanam, mongso, jamu tradisional, pijat bayi, perhitungan hari baik, pakaian adat.
7. Teknologi Tradisional
Alat pertanian, sumur bor tradisional, perontok padi.
8. Seni
Reog.
9. Bahasa
Bahasa Jawa.
10. Permainan Rakyat
Layang-layang, petak umpet, jek-jekan, benthik, nekeran, engklek, kasti, bekel.
11. Olahraga Tradisional
Balap karung, tarik tambang.
PADUKUHAN KEDUNGDOWO KULON
1. Asal Usul
Kedungdowo Kulon (barat). Hari jadi Rabu Wage.
2. Petilasan dan Peninggalan
- Bumi Pasarean Kedungdowo Kulon (Siti Hinggil) – makam para demang abdi dalem Kraton, lurah, kyai.
- Tugu Triangulasi (peninggalan kolonial).
- Kyai Djonggolo (leluhur yang bersemayam di pohon gondhang, kini tinggal cerita).
3. Manuskrip
Belum ditemukan.
4. Adat Istiadat
Gotong royong, sambatan, rewang, kenduri, musyawarah.
5. Ritus
Nyadran, Rasulan, Tahlilan, Jagong bayi, sedekahan, Surtanah, Surak, Tingkepan, puputan, Lamaran, Ijab qobul, Tepung besan; ziarah makam.
6. Pengetahuan Tradisional
Tanda-tanda alam, perhitungan mongso, hari baik, pakaian adat.
7. Teknologi Tradisional
Alat pertanian sederhana, pemanfaatan sumber air, perontok padi.
8. Seni
Toklik/Thoklik (tabuhan bambu).
9. Bahasa
Bahasa Jawa.
10. Permainan Rakyat
Layang-layang, petak umpet, jek-jekan, benthik, nekeran, engklek, kasti, bekel.
11. Olahraga Tradisional
Balap karung, tarik tambang, panjat pinang.
V. POTENSI DAN WARISAN BUDAYA DI KALURAHAN PAMPANG
Kalurahan Pampang memiliki potensi dan warisan budaya yang tumbuh dari sejarah lokal, kehidupan masyarakat agraris, serta sistem nilai tradisional yang masih dijaga hingga saat ini. Warisan budaya tersebut mencakup warisan budaya takbenda (intangible), warisan budaya benda (tangible), serta ekspresi budaya yang hidup dalam praktik sosial masyarakat.
Warisan budaya benda di Kalurahan Pampang antara lain berupa situs-situs bersejarah, makam leluhur, sumur tua, serta peninggalan pemetaan wilayah yang memiliki nilai historis dan simbolik bagi masyarakat. Beberapa di antaranya adalah Bumi Pasarean Siti Hinggil, Sumur Tua Pampang, Bumi Pasarean Kyai dan Nyai Lurah Harjo Suwito, serta Tugu Triangulasi di wilayah Kedungdowo Kulon. Situs-situs tersebut tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga berfungsi sebagai ruang memori kolektif dan bagian dari tradisi lisan masyarakat.
Warisan budaya tak benda Kalurahan Pampang tercermin dalam berbagai ritus adat, tradisi lisan, pengetahuan tradisional, bahasa Jawa, serta praktik sosial seperti gotong royong, sambatan, dan rewang. Tradisi seperti Nyadran, Rasulan (Bersih Desa), Gumbregan, serta ritus daur hidup masih dilaksanakan secara rutin dan menjadi sarana penguatan identitas budaya masyarakat.
Selain itu, potensi budaya Kalurahan Pampang juga tampak pada keberlanjutan kesenian rakyat, permainan tradisional, dan olahraga tradisional seperti pencak silat, yang berperan dalam pembinaan karakter, solidaritas sosial, dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal.
Keseluruhan potensi dan warisan budaya tersebut menjadi modal budaya yang penting dalam mendukung pembangunan Kalurahan Pampang yang berkelanjutan dan berakar pada kearifan lokal.
VII. KESIMPULAN
Hasil pendataan kebudayaan Kalurahan Pampang menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki kekayaan budaya yang beragam dan masih hidup secara aktif dalam kehidupan masyarakat. Tradisi, nilai sosial, dan praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun tetap terjaga berkat peran masyarakat, tokoh adat, dan kelembagaan sosial di tingkat dusun maupun kalurahan.
Berdasarkan hasil pendataan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
- Kalurahan Pampang memiliki warisan budaya yang mencakup warisan budaya benda dan takbenda, seperti situs bersejarah, tradisi lisan, ritus adat, bahasa daerah, pengetahuan tradisional, serta kesenian rakyat.
- Kehidupan sosial masyarakat yang guyub, rukun, dan berorientasi pada gotong royong menjadi modal sosial yang kuat dalam pelestarian budaya lokal.
- Ritus adat dan tradisi pertanian masih dilaksanakan secara berkelanjutan dan berfungsi sebagai sarana ungkapan rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, serta penguatan kohesi sosial.
- Budaya lokal Kalurahan Pampang mampu bertahan dan berdampingan dengan perkembangan zaman, meskipun tetap memerlukan penguatan dalam aspek dokumentasi dan regenerasi pelaku budaya.
- Potensi budaya yang dimiliki Kalurahan Pampang memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai sumber penguatan identitas lokal, pendidikan budaya, serta ekonomi kreatif berbasis masyarakat.
- Upaya pelestarian budaya memerlukan dukungan berkelanjutan dalam bentuk pendataan, pembinaan, fasilitasi, serta sinergi antara pemerintah kalurahan, masyarakat, dan pemangku kepentingan terkait.
Secara keseluruhan, pendataan ini menegaskan bahwa Kalurahan Pampang memiliki modal budaya yang kuat untuk dikembangkan sebagai kalurahan berkarakter budaya yang berlandaskan kearifan lokal.
VIII. PENUTUP
Profil Kebudayaan Kalurahan Pampang disusun sebagai dokumen dasar dalam upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan di tingkat kalurahan. Melalui pendokumentasian ini, diharapkan nilai-nilai luhur budaya lokal Kalurahan Pampang dapat terus hidup, terjaga, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Dokumen ini juga diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah kalurahan, masyarakat, serta pihak terkait dalam merumuskan kebijakan dan program pembangunan yang berorientasi pada penguatan identitas budaya dan keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat Kalurahan Pampang.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Pendataan Kebudayaan Kalurahan Pampang. 2025. Profil Kebudayaan Kalurahan Pampang. Gunungkidul: Pemerintah Kalurahan Pampang.
Rijksblad Van Djogja Nomor 12 Tahun 1916.
Maklumat No. 5 Tahun 1948 Pemerintah Daerah Istimewa Negara Republik Indonesia Jogjakarta.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul. (Pedoman 10 Objek Pemajuan Kebudayaan).
Wawancara dengan para sesepuh dan tokoh masyarakat Kalurahan Pampang (2025).
Dokumen Berita Acara Kesepakatan Hari Jadi Kalurahan Pampang Tahun 2025.
0 Komentar