Ticker

6/recent/ticker-posts

Desa Pampang Bentuk Tim Dewan Kebudayaan untuk Perkuat Sejarah Lokal

Pemerintah Kalurahan Pampang bersama tokoh masyarakat dan budayawan sepakat membentuk Tim Dewan Kebudayaan Kalurahan Pampang. Langkah ini didukung dana keistimewaan dan bertujuan untuk melestarikan adat istiadat, memperkuat identitas budaya, sekaligus menginventarisir situs-situs bersejarah yang ada di wilayah desa.

"Tanggal, hari, dan bulan peristiwa harus terungkap, karena tahunnya sudah diketahui, yakni 1864 saat kedatangan Kyai Mangun Wijoyo"

— Pak Sapardi

Pak Tukiran (RW 004 Kedungdowo Wetan) menyampaikan dukungannya terhadap penjilidan dan pelestarian buku sejarah Desa Pampang agar generasi penerus dapat melanjutkan dan menjaga kisah sejarah desa. Pak Mujiyo menambahkan pentingnya merawat buku sejarah yang telah ada, sekaligus melengkapi bagian yang belum tercatat.

Pak Sapardi, salah satu penulis awal buku sejarah Pampang, mengingatkan bahwa catatan yang ada saat ini masih bersifat awal dan banyak kekurangan. Ia mendorong generasi muda untuk ikut menggali informasi sejarah menggunakan teknologi dan sumber cerita keluarga.

Situs Bersejarah Pampang

  • Sumur Gede Pampang
  • Tugu Tranggulasi
  • Sungai Bendowo
  • Talang kayu di Kali Pampang

Pak Saiful Khohar (Lurah Kalurahan Pampang) menekankan perlunya pendataan situs bersejarah, seperti Sumur Gede Pampang, Tugu Tranggulasi, dan Sungai Bendowo, yang selama ini menjadi bagian penting sejarah desa. Tugu Tranggulasi sendiri dikenal sebagai patok batas jalur perjuangan Jenderal Sudirman dan hingga kini masih dilalui dalam kegiatan napak tilas Taruna Akmil TNI.

Momen Penyusunan Agenda Kerja Tim Dewan Kebudayaan
Momen Penyusunan Agenda Kerja Tim Dewan Kebudayaan Kalurahan Pampang

Pak Heru (Dukuh Polaman) membenarkan keberadaan situs sejarah di setiap dusun, termasuk talang kayu di Kali Pampang yang dipercaya sebagai saluran air tua dari sumber setempat. Ia juga menyebut nama tokoh desa yang memahami sejarah Pampang, seperti Pak Jumadi (Kedungdowo Kulon), Pak Mujiyo (Polaman), Mbah Domo (Polaman), dan Mbah Adi (Pampang). "Buku sejarah yang nantinya dicetak sebaiknya digandakan dan diluncurkan agar seluruh warga mudah mengaksesnya," ujarnya.

Menurut Pak Saiful Khohar, Dewan Kebudayaan Kalurahan akan beranggotakan budayawan, akademisi, masyarakat, praktisi, dan seniman. Setelah terbentuk, tim ini juga bisa bekerja sama dengan pihak luar seperti Dewan Kebudayaan Kapanewon, Kabupaten, hingga Provinsi. Harapannya, jejak sejarah yang terputus dapat ditemukan kembali.

Dokumentasi Notulensi Rapat Pembentukan Tim
Dokumentasi Notulensi Rapat Pembentukan Tim Dewan Kebudayaan

Bu Vega (Dukuh Kedungdowo Wetan) menambahkan, pembentukan tim perlu dikaji secara matang dan disusun strukturnya agar memudahkan proses penyusunan sejarah. Mas Tuya Katta berharap tim segera terbentuk dan menyarankan jika tidak ada tokoh praktisi atau spiritual di desa, dapat mencari dari luar.

Pak Hardo (ulu-ulu desa) mengusulkan agar tim desa nantinya menggandeng Dewan Kebudayaan Kapanewon untuk memperkuat sinergi dalam pelestarian budaya.

Lindu Adjie menjelaskan, penulisan sejarah Desa Pampang berawal dari lomba sejarah desa yang diadakan Dinas Kebudayaan Gunungkidul pada masa kepemimpinan almarhum Lurah Iswandi, dengan ketua tim almarhum Pak Sugiyatno. Inisiatif ini menjadi cikal bakal lahirnya buku sejarah Pampang yang kini perlu dilengkapi dan disempurnakan.

Melalui pembentukan Tim Dewan Kebudayaan Kalurahan Pampang, seluruh pihak berharap sejarah desa dapat terdokumentasi lebih lengkap, situs bersejarah terjaga, dan identitas budaya desa semakin kuat. "Narasumber sejarah tidak hanya orang tua, tetapi juga generasi muda yang bisa menjadi penelusur informasi," pesan Pak Sapardi menegaskan pentingnya keterlibatan semua lapisan masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar