Desa Pampang, Paliyan Gunungkidul
"Pampang Ijo, Subur Makmur, Guyub Rukun"
Sejarah Desa Pampang
Asal Usul Desa
Desa Pampang didirikan oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta yang menetap di wilayah ini. Nama "Pampang" berasal dari kata "sempalaning pang-pang" (cabang pohon besar yang patah).
Era Kyai Lurah Harjo Suwito
Masa kepemimpinan lurah yang juga seorang dalang wayang terkenal. Tradisi kesenian wayang kulit mulai berkembang pesat.
Berkembangnya Kerajinan Perak
Industri kerajinan perak (gemblak) mulai menjadi mata pencaharian utama warga dan menjadi ciri khas Desa Pampang.
Pembangunan Pasar Pon
Pasar tradisional dibangun sebagai pusat perekonomian warga.
Pembangunan Galeri Perak
Dengan bantuan PGN, dibangun Galeri Perak sebagai pusat pemasaran produk kerajinan warga.
Pengembangan Wisata Bendowo
Potensi alam sungai Kedungdowo dikembangkan menjadi objek wisata alam.
Budaya & Tradisi
Wayang Kulit
Pertunjukan wayang kulit menjadi hiburan utama dalam acara Rasulan dan hajatan warga.
Rasulan
Tradisi bersih desa sebagai ungkapan syukur setelah panen.
Srabi Kocor
Ritual memohon hujan di Sumur Gede saat musim kemarau panjang.
Nyadran
Ziarah kubur leluhur sebagai bentuk penghormatan.
Gumbrekan
Selamatan hewan ternak pada Selasa Wage sebagai permohonan keselamatan hewan peliharaan.
SEJARAH BERDIRINYA DESA PAMPANG
Asal Usul Nama "Pampang"
Desa Pampang berdiri pada tahun 1864 pada masa Kadipaten Mataram. Nama "Pampang" berasal dari pepatah Jawa "sempalaning pang-pang" yang artinya "pohon besar dengan banyak dahan (cabang) yang patah". Pohon besar ini menggambarkan besarnya kerajaan (Kraton), sedangkan dahan yang patah melambangkan para abdi dalem Kraton yang memiliki kedudukan sebagai Demang, Bekel, atau Behi yang bermukim dan dihormati oleh masyarakat setempat.
Para abdi dalem dan sesepuh berkumpul untuk bermusyawarah, dan hasil musyawarah tersebut menyepakati nama "PAMPANG" untuk tempat ini.
Kepala Desa yang Pernah Menjabat
Hingga saat ini, Desa Pampang telah dipimpin oleh 9 (sembilan) kepala desa, yaitu:
1. Kyai Lurah Sodinomo (Dherung)
- Lurah pertama Desa Pampang.
- Menjabat selama kurang lebih 30 tahun.
- Tidak banyak informasi mengenai kiprahnya karena minimnya sumber sejarah.
2. Kyai Lurah Songet (Lurah Sekores)
- Menjabat hanya sekitar 1 tahun.
- Diberhentikan karena masalah penyimpangan administrasi keuangan pada masa pemerintahan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
3. Kyai Lurah Harjo Suwito (Golo) (1927–1948)
- Menjabat pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.
- Tokoh seni dan budaya, dikenal sebagai dalang wayang kulit dengan nama "Dalang Golo".
- Membangun sistem pemerintahan yang lebih tertib dan melestarikan budaya Jawa.
4. Bapak Pawiro Utomo (1948–1965)
- Sebelumnya menjabat sebagai Carik Desa.
- Masa jabatannya diwarnai peristiwa G30S PKI, di mana hampir seluruh perangkat desa diberhentikan.
5. Bapak Suyanto, SE (1965–1995)
- Sarjana Ekonomi lulusan UGM.
- Membangun Balai Desa, Pasar Pon, SD Pampang, dan lapangan sepak bola.
- Memindahkan Kantor Desa ke lokasi baru.
6. Bapak Sarmidi, SE (1996–2004)
- Memperbaiki administrasi pemerintahan dan infrastruktur desa.
7. Bapak Sugiyatno (2004–2014)
- Membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM).
- Membangun sumur bor dan rehabilitasi pasar.
8. Bapak Iswandi, SE (2015–2020)
- Mengembangkan wisata Bendowo dan program Kampung Hijau.
- Merehabilitasi Balai Desa dan membentuk BUMDes.
9. Bapak Saiful Khohar (2021–sekarang)
- Sedang menjabat
KEADAAN WILAYAH DESA PAMPANG
Identitas Desa
- Nama Desa: Pampang
- Kecamatan: Paliyan
- Kabupaten: Gunungkidul
- Provinsi: Daerah Istimewa Yogyakarta
Dusun di Desa Pampang
- Dusun Polaman
- Dusun Jetis
- Dusun Pampang
- Dusun Kedungdowo Wetan
- Dusun Kedungdowo Kulon
Data Kependudukan
Luas Wilayah
Batas Wilayah
KEADAAN EKONOMI, SOSIAL, BUDAYA, DAN KEMASYARAKATAN
Mata Pencaharian Penduduk
Catatan: Desa Pampang dikenal sebagai Sentra Kerajinan Perak sejak 1960-an, dengan hasil kerajinan yang diekspor ke Eropa, Timur Tengah, dan Amerika.
Tingkat Pendidikan
Agama
Sarana Ibadah
ADAT ISTIADAT DAN BUDAYA YANG MASIH DILESTARIKAN
1. Rasulan (Bersih Dusun)
- Upacara syukuran setelah panen.
- Dilaksanakan di tiap dusun pada hari berbeda:
- Dusun Polaman, Pampang, Jetis: Senin Pon.
- Dusun Kedungdowo: Rabu Wage.
- Diiringi hiburan wayang kulit, reyog, dan pertandingan olahraga.
2. Kirim Doa
- Upacara sebelum musim tanam untuk memohon kesuburan.
3. Srabi Kocor
- Ritual memohon hujan saat kemarau panjang.
- Dilaksanakan di Sumur Gede, Dusun Pampang.
4. Nyadran
- Tradisi ziarah kubur dan kirim doa untuk leluhur.
5. Gumbregan
- Selamatan hewan ternak (sapi, kambing, kerbau) pada Wuku Gumbreg Selasa Wage.
PEMBANGUNAN DAN PROGRAM DESA
1. Infrastruktur
- Pasar Pon: Dibangun 1967, direhabilitasi 2007–2011.
- Sumur Bor: Dibangun 2007–2008 untuk mencukupi kebutuhan air bersih.
- Puskesmas Pembantu: Dipindahkan ke Dusun Pampang (2017).
2. Program Unggulan
- KUBE Sejahtera 07: Kelompok Usaha Bersama untuk pengrajin perak dan peternak.
- BUMDes: Mengelola SPAMDes, pasar, dan aset desa.
- Wisata Bendowo: Obyek wisata alam di Kedungwowo Kulon.
3. Penghargaan
- Desa Penyangga Wisata (2009).
- Piagam prestasi dari Pemda DIY untuk pengembangan perikanan.
PENJELASAN SINGKAT
1. Galeri Perak Pampang
Dibangun dengan bantuan PGN Jakarta (2009).
2. Tugu Perbatasan Desa
Terletak di perbatasan bagian timur: Dusun Polaman dan Wareng.
Terletak di perbatasan bagian barat: Dusun Kedungdowo Kulon dan Grogol.
3. Wisata Bendowo
Destinasi wisata alam dengan sungai dan river tubing.
4. Balai Desa Pampang
Direhabilitasi pada 2016.
0 Komentar