Ticker

6/recent/ticker-posts

Kenduri Pariwisata Inti Rakyat Volume 2

Kenduri PIR

Kenduri Pariwisata Inti Rakyat Volume 2

Membahas Strategi Regenerasi Kepengurusan Desa Wisata untuk Keberlanjutan

Event Photo 1 Event Photo 2 Event Photo 3 Event Photo 4 Event Photo 5

Forum Kenduri Pariwisata Inti Rakyat (PIR) Volume 2 kembali digelar pada Sabtu (17/5/2025) di Desa Wisata Krebet, Kabupaten Bantul, sebagai wadah berbagi pengetahuan dan praktik terbaik pengelolaan desa wisata berbasis komunitas. Mengusung tema "Transformasi Kapasitas SDM Kaderisasi Pengelola: Model Regenerasi Kepengurusan Menuju Desa Wisata yang Berkelanjutan", acara ini dihadiri oleh pengelola desa wisata, akademisi, serta perwakilan pemerintah.

Regenerasi Lebih dari Sekadar SDM

Diskusi interaktif yang dipandu oleh Ferdian Dwi Saputra (Mahasiswa Pariwisata UGM 2022) menghadirkan tiga narasumber berpengalaman:

  1. Dwi Wahyu S (Pengelola Desa Wisata Pentingsari, Sleman)
  2. Agus Jati Kumara (Pengelola Desa Wisata Krebet, Bantul)
  3. Albertus Desy (Pengelola Desa Wisata Pandanrejo, Purworejo)

Wahyu dari Pentingsari menyoroti bahwa regenerasi tidak hanya tentang sumber daya manusia, tetapi juga meliputi sarana dan prasarana pendukung. "Kalau sapi mati dan tidak diganti, siapa yang akan membajak sawah? Tidak mungkin pakai sapi berusia empat tahun, kan?" ujarnya disambut tawa peserta. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan seluruh elemen desa wisata, termasuk alat produksi tradisional yang menjadi daya tarik wisata.

Pendekatan Sistemik dan Emosional dalam Regenerasi

Masing-masing desa wisata memiliki strategi unik dalam menjalankan regenerasi:

  • Desa Wisata Krebet menerapkan sistem pemilihan ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) layaknya pemilu, memastikan partisipasi aktif masyarakat.
  • Desa Wisata Pandanrejo membatasi masa jabatan ketua hanya satu periode untuk memastikan regenerasi berjalan lancar. "Di kami, ketua maksimal satu periode, tidak boleh lebih," tegas Desy.

Agus dari Krebet menekankan pentingnya profesionalisme di balik gerakan sosial. "Kami punya aturan ketat, seperti pemandu wisata yang tidak memakai seragam atau terlambat akan dikenai potongan honor," jelasnya.

Rilis Hasil Survei: Dampak Kebijakan terhadap Desa Wisata

Dalam sesi khusus, Desa Wisata Institute dan Atourin memaparkan hasil survei mengenai dampak Inpres Nomor 1 Tahun 2025 dan larangan study tour terhadap desa wisata. Beberapa temuan kunci:

  • Penurunan signifikan kunjungan dari pelajar/mahasiswa serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
  • Perlunya adaptasi melalui penguatan pendampingan, ekspansi pasar wisatawan mancanegara, dan relaksasi kebijakan perjalanan.

Hannif Andy A (founder Desa Wisata Institute) dan Reza Permadi (founder Atourin) menyampaikan rekomendasi strategis untuk memitigasi dampak tersebut.

Dukungan Pemangku Kepentingan dan Harapan ke Depan

Perwakilan Kementerian Pariwisata, Badan Otorita Borobudur (BOB), dan Dinas Pariwisata menyambut positif forum ini. Yulwan dari BOB mengusulkan perluasan cakupan ke kampung wisata yang memiliki karakteristik kewilayahan unik.

"Kampung wisata punya relasi sosial berbeda, ini jadi tantangan menarik untuk dibahas di Kenduri PIR selanjutnya," ujarnya.

Penutup

Kenduri PIR Volume 2 berhasil menciptakan ruang dialog yang inspiratif dan aplikatif bagi pengelola desa wisata. Dengan semangat kolaborasi, forum ini diharapkan terus berkembang, memperluas jaringan, dan memperkuat pariwisata berbasis komunitas di Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar